Akhir2 ini istilah “alay” sering banget kita dengar di mana2, dan nggak jarang juga kita gunakan. Dan memang udah banyak banget orang yang nulis tentang “alay” dengan berbagai versi. So, tulisan gw ini cuma nambah2in aja..sekadar pendapat pribadi gw tentang “alay”.
Jujur, gw dan kakak gw sering banget ngatain orang “alay”. Gw dan temen2 gw pun sering ngetawain “alay”. Gw yakin sebagian besar dari kalian juga. Tapi, yang mengganjal di pikiran gw, sebenarnya “alay” itu siapa?
Dari beberapa ‘versi’ tentang alay yang pernah gw denger, semua sepakat bahwa ‘alay’ itu kependekan dari ‘anak layangan’. Tapi, deskripsi di balik penggunaan nama ini macem-macem versinya. Yang pertama gw denger, katanya alay a.k.a. anak layangan disebut demikian untuk menggambarkan anak2 kampung yang hobi main layangan dan kejemur panas matahari sehingga rambutnya berubah warna jadi kemerahan. Belakangan, definisi ini melebar untuk menggambarkan orang2 nora yang rambutnya sok2an dicat pirang padahal pirangnya mirip kaya rambut yang berubah jadi kemerah2an gara2 kelamaan main layangan itu. Tapi, baru2 ini gw menemukan lagi definisi alay. Katanya, alay itu adalah anak2 muda yang suka nonton musik live gratisan sambil moshing2 gak jelas.
Nah, itu baru soal definisi. Soal ciri-ciri alay, ada banyak banget dan gak bisa gw sebutin semuanya, karena kayanya setiap orang punya persepsi masing2 tentang alay itu seperti apa. Suatu ciri yang sering disepakati adalah pengacauan bahasa Indonesia dengan gaya penulisan yang susah dibaca orang normal. Misalnya, dengan tUliSan YanG beSar keCiL (gw heran apa gak pegel nulisnya), atau dengan tulisaan iiaang huruffnyaa didobel2 (ini juga, boros2in karakter banget). Juga dengan d!g4nt1ny4 huruf d3ng4n t4nd4 b4c4 4t4u 4ngk4 (pusing bacanya). Terus, kalo bikin singkatan juga suka aneh2 alias gak umum. FYI, The Jakarta Post bahkan mengulas sebuah artikel tentang gaya menulis alay, judulnya “Messing With Letters” (thanks to Tia for the info).
Ada juga yang bilang kalo alay itu sukanya band2 indonesia yang “begitu deh”. Misalnya, ST12, Kangen band, Wali, atau apa lah sejenisnya, I don’t give a damn. Alay2 adalah orang2 yang berada di baris paling depan sambil moshing2 sok asik kalo band2 ini lagi tampil. Tapi, apa emang demikian? Gimana kalo kita coba jujur ama diri kita sendiri bahwa mungkin kita sempet ngerasa kalo lagu2 mereka itu “enak didengar”? Tapi lantas kita nggak berani mengakui karena takut dicap ‘alay’? Berarti orang2 yang kita anggap ‘alay’, yang rebutan ada di baris paling depan atau yang menuliskan nama2 band tersebut di kolom “music” di facebook mereka adalah orang2 yang jujur pada diri sendiri. Now, just ask yourself and be honest.
Selain itu, banyak juga yang mengaitkan alay dengan penampilan. Misalnya, biasanya orang2 berpendapat bahwa alay2 cowo suka make hitam2 dari atas sampe bawah, dengan baju beli di distro2 daerah blok m terminal bergambar band2 luar atau gambar tengkorak2, kadang dengan piercing juga. Kadang mereka suka ngikutin mode yang udah lewat alias so yesterday. Pertanyaan gw, kenapa Vino G. Bastian, artis2, atau anak2 muda lain nongkrong di mall2 atau kafe2 mahal gak dibilang alay meskipun gayanya mirip deskripsi itu? Sedangkan, anak2 yang suka nongkrong di terminal, halte dan warung pinggir jalan dengan dandanan kaya gitu selalu dibilang alay? Apa semua karena harta? Apa karena kita yakin bahwa artis2 atau anak2 yang nongkrong di tempat2 gaul nan mahal pasti tajir dan make barang branded? Apa kita yakin kalo anak2 yang nongkrong di pinggir jalan pasti kurang modal?
Soal dandanan alay cewek, biasanya dibilang kalo cewek2 alay tuh suka make baju2 yang modelnya niru baju2 branded tapi dijualnya di pasar malam dekat rumah. Alay cewek suka banget ngikutin mode (yaiyalah namanya juga cewek) tapi suka salah mix-and-match atau make warna2 yang “nggak banget”. Contoh: make baju two-pieces kuning buram dengan legging shocking pink yang bikin sakit mata. Tapi yang jadi pertanyaan gw, baju gak matching dan warna mencolok itu pendapat siapa? Kenapa Diana Rikasari gak kita sebut alay padahal dia suka tabrak warna? FYI, waktu gw nunjukin blog Diana Rikasari sama kakak gw (a 26-year-old graphic designer who likes branded stuffs but too thrift or stingy so that sometimes also buy cheap things), dia spontan bilang “LHO KOG ALAY BANGET GAYANYA?” Padahal, semua fashionista bakal sependapat bahwa Diana Rikasari is DEFINITELY not ‘alay’. Instead, she’s perceived as cool and many people like her style.
Tiga aspek itu cuma sedikit banget dari ciri alay yang diuniversalkan. Masih banyak banget ciri2 lain yang disepakati orang banyak. Gw juga heran, apakah alay adalah orang yang memenuhi semua ciri2 itu, apa cukup memenuhi salah satunya aja? Toh kita gak selalu beli barang branded. Toh kadang kita juga enjoy jalan2 di pasar malam dekat rumah. Toh kadang kita sempat terngiang2 lagu kangen band dkk. Tapi, kita nggak akan mau disebut “alay”. Basically, nggak akan ada yang rela dikategorikan sebagai “alay”.
Jadi, sebenarnya, definisi alay, ciri-ciri alay itu dilihat melalui sudut pandang siapa? Siapa sih yang berhak menentukan alay itu siapa dan seperti apa?
Sebagai manusia yang punya “sense of conformity” yang tinggi, wajar kalo kita sama2 ngetawain seseorang atau sekelompok orang yang kita anggap bersama2 sebagai “alay”. Maybe “just for fun”. Di kaskus, facebook, dan forum2 lainnya di internet, bulan2an nomer satu adalah “alay”. Inget sama seorang cewek malang bernama Ophi A Bu Bu yang note-nya diketawain dan dikata2in secara massal di internet, bahkan dikutip di The Jakarta Post?
Banyak grup anti alay di facebook. Tapi, kalo kita telusuri, sebenarnya banyak juga di antara anggota2 grup2 tersebut atau orang2 yang jijik atau ngetawain golongan yang dinamai “alay”, sebenarnya KITA kategorikan sebagai “alay” juga. Mungkin kita bilang, “ih, alay kog ngatain alay”. Tapi, bisa jadi ada orang lain di luar sana yang juga mengkategorikan kita sebagai alay. Who knows?
Jadi balik lagi ke pertanyaan gw, “who ‘alay’ really is?” Atau pertanyaan lanjutan yang lebih tepat mungkin “according to whose perception?”
Sebelum lo gabung sama komunitas2 “anti alay”, berkacalah pada diri lo sendiri. Bisa jadi lo juga alay.
The point is, what is called ‘alay’ is very subjective. Look back to yourself before you judge someone. I can be ‘alay’. You can be ‘alay’. All of us might be ‘alay’ without even realizing it. Or maybe it’s not that we don’t realize it. Maybe it’s just our self-denial that we mock other people as ‘alay’. Maybe it’s just our nature to be fond of feeling superior by assuming that other people are “below” us.
Guys, who are “alays” in your mind?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar