Selasa, 03 November 2009

ALAY - who are they and according to whose perception?

Akhir2 ini istilah “alay” sering banget kita dengar di mana2, dan nggak jarang juga kita gunakan. Dan memang udah banyak banget orang yang nulis tentang “alay” dengan berbagai versi. So, tulisan gw ini cuma nambah2in aja..sekadar pendapat pribadi gw tentang “alay”.


Jujur, gw dan kakak gw sering banget ngatain orang “alay”. Gw dan temen2 gw pun sering ngetawain “alay”. Gw yakin sebagian besar dari kalian juga. Tapi, yang mengganjal di pikiran gw, sebenarnya “alay” itu siapa?


Dari beberapa ‘versi’ tentang alay yang pernah gw denger, semua sepakat bahwa ‘alay’ itu kependekan dari ‘anak layangan’. Tapi, deskripsi di balik penggunaan nama ini macem-macem versinya. Yang pertama gw denger, katanya alay a.k.a. anak layangan disebut demikian untuk menggambarkan anak2 kampung yang hobi main layangan dan kejemur panas matahari sehingga rambutnya berubah warna jadi kemerahan. Belakangan, definisi ini melebar untuk menggambarkan orang2 nora yang rambutnya sok2an dicat pirang padahal pirangnya mirip kaya rambut yang berubah jadi kemerah2an gara2 kelamaan main layangan itu. Tapi, baru2 ini gw menemukan lagi definisi alay. Katanya, alay itu adalah anak2 muda yang suka nonton musik live gratisan sambil moshing2 gak jelas.


Nah, itu baru soal definisi. Soal ciri-ciri alay, ada banyak banget dan gak bisa gw sebutin semuanya, karena kayanya setiap orang punya persepsi masing2 tentang alay itu seperti apa. Suatu ciri yang sering disepakati adalah pengacauan bahasa Indonesia dengan gaya penulisan yang susah dibaca orang normal. Misalnya, dengan tUliSan YanG beSar keCiL (gw heran apa gak pegel nulisnya), atau dengan tulisaan iiaang huruffnyaa didobel2 (ini juga, boros2in karakter banget). Juga dengan d!g4nt1ny4 huruf d3ng4n t4nd4 b4c4 4t4u 4ngk4 (pusing bacanya). Terus, kalo bikin singkatan juga suka aneh2 alias gak umum. FYI, The Jakarta Post bahkan mengulas sebuah artikel tentang gaya menulis alay, judulnya “Messing With Letters” (thanks to Tia for the info).


Ada juga yang bilang kalo alay itu sukanya band2 indonesia yang “begitu deh”. Misalnya, ST12, Kangen band, Wali, atau apa lah sejenisnya, I don’t give a damn. Alay2 adalah orang2 yang berada di baris paling depan sambil moshing2 sok asik kalo band2 ini lagi tampil. Tapi, apa emang demikian? Gimana kalo kita coba jujur ama diri kita sendiri bahwa mungkin kita sempet ngerasa kalo lagu2 mereka itu “enak didengar”? Tapi lantas kita nggak berani mengakui karena takut dicap ‘alay’? Berarti orang2 yang kita anggap ‘alay’, yang rebutan ada di baris paling depan atau yang menuliskan nama2 band tersebut di kolom “music” di facebook mereka adalah orang2 yang jujur pada diri sendiri. Now, just ask yourself and be honest.


Selain itu, banyak juga yang mengaitkan alay dengan penampilan. Misalnya, biasanya orang2 berpendapat bahwa alay2 cowo suka make hitam2 dari atas sampe bawah, dengan baju beli di distro2 daerah blok m terminal bergambar band2 luar atau gambar tengkorak2, kadang dengan piercing juga. Kadang mereka suka ngikutin mode yang udah lewat alias so yesterday. Pertanyaan gw, kenapa Vino G. Bastian, artis2, atau anak2 muda lain nongkrong di mall2 atau kafe2 mahal gak dibilang alay meskipun gayanya mirip deskripsi itu? Sedangkan, anak2 yang suka nongkrong di terminal, halte dan warung pinggir jalan dengan dandanan kaya gitu selalu dibilang alay? Apa semua karena harta? Apa karena kita yakin bahwa artis2 atau anak2 yang nongkrong di tempat2 gaul nan mahal pasti tajir dan make barang branded? Apa kita yakin kalo anak2 yang nongkrong di pinggir jalan pasti kurang modal?


Soal dandanan alay cewek, biasanya dibilang kalo cewek2 alay tuh suka make baju2 yang modelnya niru baju2 branded tapi dijualnya di pasar malam dekat rumah. Alay cewek suka banget ngikutin mode (yaiyalah namanya juga cewek) tapi suka salah mix-and-match atau make warna2 yang “nggak banget”. Contoh: make baju two-pieces kuning buram dengan legging shocking pink yang bikin sakit mata. Tapi yang jadi pertanyaan gw, baju gak matching dan warna mencolok itu pendapat siapa? Kenapa Diana Rikasari gak kita sebut alay padahal dia suka tabrak warna? FYI, waktu gw nunjukin blog Diana Rikasari sama kakak gw (a 26-year-old graphic designer who likes branded stuffs but too thrift or stingy so that sometimes also buy cheap things), dia spontan bilang “LHO KOG ALAY BANGET GAYANYA?” Padahal, semua fashionista bakal sependapat bahwa Diana Rikasari is DEFINITELY not ‘alay’. Instead, she’s perceived as cool and many people like her style.


Tiga aspek itu cuma sedikit banget dari ciri alay yang diuniversalkan. Masih banyak banget ciri2 lain yang disepakati orang banyak. Gw juga heran, apakah alay adalah orang yang memenuhi semua ciri2 itu, apa cukup memenuhi salah satunya aja? Toh kita gak selalu beli barang branded. Toh kadang kita juga enjoy jalan2 di pasar malam dekat rumah. Toh kadang kita sempat terngiang2 lagu kangen band dkk. Tapi, kita nggak akan mau disebut “alay”. Basically, nggak akan ada yang rela dikategorikan sebagai “alay”.


Jadi, sebenarnya, definisi alay, ciri-ciri alay itu dilihat melalui sudut pandang siapa? Siapa sih yang berhak menentukan alay itu siapa dan seperti apa?


Sebagai manusia yang punya “sense of conformity” yang tinggi, wajar kalo kita sama2 ngetawain seseorang atau sekelompok orang yang kita anggap bersama2 sebagai “alay”. Maybe “just for fun”. Di kaskus, facebook, dan forum2 lainnya di internet, bulan2an nomer satu adalah “alay”. Inget sama seorang cewek malang bernama Ophi A Bu Bu yang note-nya diketawain dan dikata2in secara massal di internet, bahkan dikutip di The Jakarta Post?


Banyak grup anti alay di facebook. Tapi, kalo kita telusuri, sebenarnya banyak juga di antara anggota2 grup2 tersebut atau orang2 yang jijik atau ngetawain golongan yang dinamai “alay”, sebenarnya KITA kategorikan sebagai “alay” juga. Mungkin kita bilang, “ih, alay kog ngatain alay”. Tapi, bisa jadi ada orang lain di luar sana yang juga mengkategorikan kita sebagai alay. Who knows?


Jadi balik lagi ke pertanyaan gw, “who ‘alay’ really is?” Atau pertanyaan lanjutan yang lebih tepat mungkin “according to whose perception?”


Sebelum lo gabung sama komunitas2 “anti alay”, berkacalah pada diri lo sendiri. Bisa jadi lo juga alay.


The point is, what is called ‘alay’ is very subjective. Look back to yourself before you judge someone. I can be ‘alay’. You can be ‘alay’. All of us might be ‘alay’ without even realizing it. Or maybe it’s not that we don’t realize it. Maybe it’s just our self-denial that we mock other people as ‘alay’. Maybe it’s just our nature to be fond of feeling superior by assuming that other people are “below” us.

Guys, who are “alays” in your mind?

Senin, 02 November 2009

Just a small quote...

Quote of the day:

Love is like a bus; if you miss it, you'll catch another one!

But hopefully it's not like Indonesian trains.. once you missed it, you'll have to wait really....really long!

Minggu, 01 November 2009

I'm back!

Well, i just realized that i'd made this blog some time in the past.

I decided to make REAL blog (since i've made some blogs and always ended up posting one-two
entries and left it untouched), so i made a new blog in blogspot.

To my surprise, they said i've made a blog with that email before.
i really forgot i did it!
So i reset the password and opened this blog and got really surprised cuz i've written here without even remembering. Geez... I must've left that chunk of memory somewhere....


So now, with free wi-fi internet connection stolen from my neighbor, i guess i'll really activate this blog somehow..

I wish i can give people "something". maybe some fashion inspiration or tips, since i've been so fond of making accessories.

I own a small fashion brand called CreaShion jointly with some friends of mine.
we've been doing it since april 2009 and it's been growing faster than we expected.

Check us out on facebook: Creashion Indonesia.

Hope you like our products and don't forget to purchase!

Senin, 14 Juli 2008

handphone tersayang, handphone yang tersiksa...


Gw punya 4 kebutuhan primer, yaitu makanan enak, pakaian keren, kamar yg pewe, sama yang terutama : HANDPHONE.

Dan gw rasa, handphone emang udah jadi kebutuhan pokok buat smua orang dari sgala kalangan. Coba aja kalo hape lo ketinggalan, berasa ada yang kurang kan? Ibaratnya, lupa bawa hape sama dengan lupa make kolor.. hehehe…

Tapi buat gw sih hape nggak perlu canggih2 amad, asal ada fitur buat nelpon dan sms demi komunikasi..
Kalo tu hape ada tambahan kaya sarana bernarsis2 ria (baca: kamera) atau pencetus kebudegan dini (baca: mp3 player) ya lebih asik lagi..
Tapi ya basicly gw perlu bgt hape buat smsan dan telponan..
Really cant live without my cellphone.

Hape pertama gw, gw dapetin 7 tahun yang lalu, waktu gw kelas 6 SD.. waktu itu masih jarang anak sd yang punya hape sendiri, karena waktu itu org2 belom terlalu sadar akan pentingnya hape yang sama pentingnya dengan celana dalam itu..
Awalnya bonyok gw jg belom sadar pentingnya hape buat anak sd, tapi karena nggak tahan sama rengekan gw, akhirnya bokap gw nyerah juga dan nambahin duit tabungan gw yang cuma sekitar 300 ribu dan ngebeliin nokia 3315 berlayar monokrom dan berbentuk seperti ulekan berwarna hijau nanggung yang waktu itu baru rilis dan harganya 1,4 juta..
Setelah gw beli, eeeeeeeeeehhhhhh taunya 3 temen sekelas gw juga beli hape yang persis sama dalam waktu yang berdekatan!! Siallll…….
Dan, makin hari, tu hape makin menjadi hape sejuta umat yang dimiliki semua kalangan dan bikin gw gedeg sendiri tiap liat ada yang nyamain hape gw..
Mungkin emang udah bakat gw jadi trendsetter.. huahahahahahaha..

Waktu ngebeliin tu hape, gw dah bikin perjanjian ama bokap bahwa gw akan baru boleh ganti hape kalo udah SMA..
Dan akhirnya gw menepati janji gw itu setelah hampir 4 tahun melewati suka-duka bersama nokia 3315 tersayang ituuu..

Tu hape sering banget jatoh dari berbagai ketinggian.. tapi yang paling ekstrem, tu hape pernah jatoh dari lantai 5 hotel Sheraton jogja . . . . . . . . . and SURVIVE!!!

Critanya waktu itu gw ama nyokap lagi nyantai2 duduk di balkon kamar di lantai 5, di bawahnya taman yang lumayan asri gitu deh..
Nyokap gw masuk ke dalem kamar, trus gw lagi ngeliat2 ke bawah sambil megang hape dan berpikir, “gila juga kalo hape gw jatoh ke bawah…”
Tiba2, beberapa menit kemudian, entah bagaimana caranya tu hape lepas dari tangan gw dan mantul ke meja, pinggiran balkon, lalu meluncur dengan kecepatan 397 km/jam (kecepatannya gw ngasal. Hahaha) mengikuti gaya gravitasi….
Gw langsung speechless dan gemeteran trus ngasih tau nyokap gw, “mi, handphoneku jatoh..”
Nyokap langsung menunjukkan reaksi normal ibu2: histeris mampus kaya seolah2 ada bayi yang jatoh dari lantai 5..
Nyokap awalnya nyuruh gw ke bawah sendiri dan nyokap gw ngejagain dari atas, kalo2 ada orang di bawah yang ngambil tu hape.. tapi gw punya phobia masuk lift sendiri jd gw mati2an minta nyokap temenin ke bawah..
Setelah sempet curhat colongan ama mbak2 yang naik lift bareng, gw langsung ke tamannya nyariin tu hape di bawah jendela kamar gw.. tapi nggak ada.. gw makin panik..
Tiba2, di tengah kepanikan gw dan segala pertanyaan yang timbul di otak gw, ada sesosok dewa penyelamat berwujud bapak2 tukang kebon Sheraton yang nanya, “nyari hape ya mbak? Yang ini bukan?”
Gw langsung nyamperin dia (ok, lebih tepatnya nyamperin hape gw) dan dengan takjub ngambil tu hape dari tangannya, yang ajaibnya berkondisi SAMA PERSIS kaya sebelom dia jatoh (yg gw maxud hapenya, bukan bapak2 tukang kebonnya. Hahaha)..
Dan sejak saat itu, tidak ada sedikitpun kecacatan fungsi pada nokia 3315 tsb.. benar2 hape ajaib meski terpaksa gw jual buat nambahin duit ganti hape.

Abis itu, waktu kelas 1 SMA, akhirnya setelah direngek sedemikian rupa dan disadarkan bahwa era hape berlayar item-putih telah lama berganti dengan hape berwarna dan berkamera, akhirnya bokap gw setuju juga buat ngeganti hape penuh kenangan itu sama yang baru.
Setelah muter2 beberapa jam di roxy, akhirnya gw beli sony ericsson K300i yang masih gw pake sampe sekarang..

Waktu pertama make tu hape, gw udah berjanji dalam hati untuk dengan setia menjaga tu hape, nggak akan ngejatohin dengan brutal lagi, dengan asumsi bahwa semakin canggih hapenya, semakin rapuhlah ia.

Nyatanya, old habits die hard. Gw masih aja ceroboh dan sering banget ngejatohin tu hape.. meski gak pernah ngejatohin tu hape ke lobang kloset yang ada tokainya.. (FYI, bokap gw pernah jatohin hapenya ke lobang kloset di pesawat dan abis itu tu hape langsung diservis.. sungguh tukang servis yang malang yang tidak tahu apa2.)

Puncaknya, hari rabu tanggal 9 kemaren, tragedi yang sama berulang…
tu hape jatoh dari lantai 2 rumah gw sampe ke basement.. (iya, gw emang punya basement kecil gitu di bawah tangga, ada kamar mandinya).

Awalnya, tu handphone gw taroh di atas sofa yg ada di pinggiran tangga, trus gw nyari2 sesuatu di sofa itu dgn ngebongkar2 dan gak inget sama sekali kalo sebelomnya gw naroh handphone..
Tiba2 gw denger bunyi “bletaaakk… takk.. takk… takkk…” yang udah gw kenal banget (secara tu handphone emang sering banget jatoh. Hahaha)
Gw langsung deg2an mampuss… dan nyari2 keberadaan tu handphone dengan ngeliat ke bawah. Tapi tu handphone nggak keliatan dan gak ketauan jatoh ke arah mana..
Gw turun tangga dan nyari di lantai bawah, tapi tu handphone nggak ada juga..
Gw makin deg2an.. mana mungkin handphone gw ilang di rumah sendiri??!!
Gw akhirnya turun ke basement dan akhirnya menemukan handphone kesayangan gw tergolek tak berdaya di depan pintu kamar mandi basement.
Ajaibnya, tu handphone utuh!! Gak ada bagian yang lepas sedikit pun!!
Dengan deg2an gw angkat, dan coba gw pencet untuk buka kunci keypadnya..
Lebih ajaib lagi, tu handphone masih nyala!!!! Gokil kan??
Setelah terpantul sebanyak 4x (pinggiran tangga atas, tangga bawah, tangga basement, lantai), tu handphone masih nyala dan tidak ada kecacatan sedikit pun!
Well, emang sih tu hape sempet mati sedetik trus nyala lagi, tapi itu udah biasa terjadi..
Tapi berhubung gw agak2 takut dengan nasib tu handphone, akhirnya tu handphone gw matiin beberapa jam.
Waktu gw rasa udah cukup, akhirnya gw coba nyalain lagi dan ngecek semua aplikasi, dan nggak ada keanehan sedikit pun!! Semuanya masih berfungsi dengan normal.. benar2 hape ajaiiibb.. mungkin hape gw termasuk dalam salah satu alat doraemon kali ya.. hehehe..

Sampai tadi pagi, nggak ada kecacatan sedikit pun thd tu hape, kaya nokia 3315 gw itu setelah jatoh dari lantai 5..
Tapi, waktu batrenya habis total dan gw maw ngecharge, eeeeehhhh tu hape ogah charging. Siaaaalll..
Emang sih selama ini dia suka bertingkah kalo maw ngecharge, tapi masih bisa. Eh tadi pagi gak maw sama sekali. Ngambek kali.

Gw emang punya hape 1 lagi, esia. Tapi hampir smua orang slalu nghubungin gw ke hape gw yang GSM itu. Jadi gw panik mampusss.. karena tu hape gak maw nyala lagi karena batrenya abis total.

Sambil ngurusin urusan laen, gw nyari tukang servis, dan akhirnya nemuin tukang servis yang pewe dan ngebenerin tu hape dengan ongkos 75 ribu yang didiskon jadi 70 ribu dan menguras semua isi dompet gw tanpa selembar uang pun. Huhuhuhuhuhu. . . . . forget about another shopping day!!

Yang penting tu hape sekarang udah bener lagi dan gw kembali eksis di dunia pertelekomunikasian.. hehehe.. dan mudah2an bokap gw segera menyetujui proposal penggantian hape gw.


so, have a nice day and take good care of you cellphone like taking care of your own soul!


jangan lupa untuk selalu mengenakan kolor anda.. (baca: selalu membawa hape anda..)

Senin, 07 Juli 2008

my very first post

Hello there.........
I'm a newcomer in this blogging community..

Hopefully I could keep writing in this space!!

alasan utama gw ngeblog adalah karena gw punya waktu luang yang berlebihan.. hehehehe..
I've just graduated from high school and I still have two months of doing nothing before I continue studying in university.
The other reason is. . . . . I just want to share my thoughts with others.
I really hope that someone would read my blog and leave comments.. hehehehe...


Well, if u've read this, I really really thank you very much for your time!


See you again in the next post!





. . . . . Jenneefa . . . . .